Bagaimana China dan Jepang Bersaing Dalam Industri Mobil Indonesia – The Diplomat
Pacific Money

Bagaimana China dan Jepang Bersaing Dalam Industri Mobil Indonesia – The Diplomat

Setelah bersaing di atas kereta api berkecepatan tinggi, China dan Jepang kini semakin bersaing memperebutkan pasar otomotif Indonesia yang terus berkembang. Pekan lalu dilaporkan China Chery Automobile Co Ltd telah mengumumkan bahwa mereka siap untuk masuk kembali ke Indonesia tahun ini, setelah upaya gagal untuk masuk ke pasar di awal 2000-an, kali ini dengan janji lebih segar dan lebih canggih. produk.

“Dalam dua tahun ke depan, kami akan menghadirkan lima model baru di Indonesia, yaitu SUV konvensional dan kendaraan energi baru,” kata Qin Gang, perwakilan Chery, seperti dilansir surat kabar KONTAN. Chery juga berinvestasi di fasilitas produksi di Indonesia.

Chery bukan satu-satunya pabrikan mobil China yang membuat terobosan di Indonesia. Wuling dan Dongfeng Sokonindo (DFSK) juga semakin menonjol di pasar mobil tanah air. Mobil Wuling kini dijual melalui lebih dari 100 jaringan dealer di seluruh tanah air.

KONTAN melaporkan popularitas produk Wuling kini telah melampaui penjualan dari merek mobil Jepang seperti Mazda dan Nissan. Dari Januari hingga Juni tahun ini, Wuling mencatat 10.973 unit terjual, memberikan perusahaan Cina pangsa 2,8 persen dari pasar mobil Indonesia dan menjadikannya merek mobil paling populer ketujuh di negara ini. DFSK juga mencatatkan penjualan yang sehat, meski tidak sebesar Wuling.

Sementara beberapa orang percaya bahwa produk Cina akan menghadapi kesulitan dalam mengubah konsumen Indonesia dari merek Jepang yang sudah lama mereka kenal, produsen Cina mulai belajar bagaimana memenangkan hati orang Indonesia, terutama dengan mengenali kebutuhan mereka akan layanan purna jual yang andal. jaminan.

Menikmati artikel ini? Klik di sini untuk berlangganan untuk akses penuh. Hanya $5 per bulan.

Dari perspektif Cina, Indonesia merupakan pasar otomotif yang menjanjikan karena dua alasan. Pertama, rasio kepemilikan mobil terhadap total populasi masih rendah, yaitu hanya 99 mobil per 1.000 orang pada tahun ini, yang berarti ada ruang yang cukup besar bagi industri untuk tumbuh. Kedua, Indonesia baru-baru ini melihat pembangunan infrastruktur vital yang substansial termasuk jalan raya dan jalan raya, yang kemungkinan akan mendorong permintaan mobil.

Faktanya, pembuat mobil Cina telah membuat terobosan di Indonesia untuk beberapa waktu. Pada tahun 2019, setelah Presiden Joko Widodo menandatangani peraturan presiden tentang mobil listrik, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa mereka berencana untuk berkolaborasi dengan pabrikan China untuk tujuan ini. Tak lama kemudian, pada Juli 2019, dua perusahaan China, BYD Auto Co., Ltd dan JIC, mengumumkan rencana untuk merelokasi operasi mereka ke Indonesia.

Selain itu, pada bulan yang sama, DFSK juga mengumumkan niatnya untuk memproduksi mobil listrik E3 Glory di Indonesia, dengan tujuan untuk memasarkannya di seluruh Asia Tenggara.

Sebagai sumber penjualan mobil dan kendaraan listrik terbesar di dunia, masuknya China ke pasar mobil Indonesia akan mengganggu dominasi Jepang yang sudah lama ada di industri otomotif Indonesia.

Sejak tahun 1970-an, konsumen Indonesia sangat bergantung pada Jepang dalam hal mobil. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia melaporkan pada tahun 2016 sebagian besar mobil yang dikemudikan di Indonesia adalah buatan Jepang. CNN juga melakukan polling yang menemukan bahwa orang Indonesia lebih memilih mobil Jepang daripada yang diproduksi di Eropa, Korea Selatan, atau China. Produsen mobil Jepang seperti Toyota dan Honda juga mulai memasarkan kendaraan listrik di Asia Tenggara.

Tetapi mengingat bahwa kendaraan listrik sama-sama baru di Indonesia dan relatif mahal, merek-merek China menikmati keunggulan tertentu. Dibandingkan dengan saingan Jepang mereka, banyak orang melihat mobil dari China relatif murah dan kualitas sebanding. Selain itu, China sekarang menjadi produsen kendaraan listrik terkemuka di dunia, serta pemimpin dalam pembuatan banyak komponen yang digunakan di dalamnya.

China, yang memiliki 93 pabrik baterai pada tahun lalu, memiliki akses istimewa ke bahan-bahan yang dibutuhkan seperti nikel, kobalt, dan lithium. Ini juga merupakan rumah bagi pabrik produksi katoda, anoda, dan bahan kimia penting untuk memproduksi sel baterai.

CATL, produsen baterai lithium-ion terbesar di China, berencana membangun lokasi produksi untuk komponen tersebut di Indonesia pada tahun 2024. Sementara itu, dua pabrik pengolahan nikel terpenting di dunia, Weda Bay Industrial Park dan Morowali Industrial Park, sedang berlokasi di Indonesia, yang keduanya mayoritas dimiliki oleh perusahaan Cina.

Oleh karena itu, masuk akal bagi Indonesia untuk melihat kerja sama yang lebih kuat dengan China baik dalam penjualan dan produksi mobil dan kendaraan listrik.

Masuknya produsen mobil Cina ke pasar mobil Indonesia kemungkinan akan mengganggu stabilitas kerjasama ekonomi lama dengan Jepang. Apalagi jika melihat fakta bahwa Indonesia semakin menjadi medan pertempuran strategis antara Beijing dan Tokyo, seperti dalam tender pembangunan kereta api Jakarta-Bandung baru-baru ini, di mana China berhasil memenangkan tender tersebut.

Menikmati artikel ini? Klik di sini untuk berlangganan untuk akses penuh. Hanya $5 per bulan.

Sementara Indonesia baru-baru ini mengatakan sedang mempertimbangkan untuk membawa Jepang untuk membantu memperpanjang jalur kereta api ke Surabaya, pada saat penawaran awal diumumkan, pemerintah Jepang, yang telah membuat sejumlah persiapan untuk mengamankan penawaran, kecewa dengan hasilnya, seperti yang dikatakan Kepala Sekretaris Kabinet Suga Yoshihide saat itu. Mempertimbangkan perkembangan baru-baru ini, pasar otomotif Indonesia tampak sebagai medan pertempuran lain antara dua rival Asia Timur tersebut.

Posted By : pengeluaran hk